Ini tentang toleransi lebih
tepatnya toleransi sesama umat muslim. Seperti yang kita tau bahwa, sesama umat
muslim itu bersaudara kan yaa. Lalu, mengapa masih banyak ghitu yang saling
membenci? Saling menyerang? Saling tidak menghargai? Dan saling-saling yang
lainyaa.
Mungkin, kadang kita merasa ngak
suka pada saudara sesama muslim, disebabkan karena beberapa hal, missalnya:
kita beda prinsip kah, atau kita berbeda pendapat kah, dll sehingga terjadinya
pertengkaran.
Padahal, sebagai sesama muslim itu
memiliki tugas untuk memuliakan sesama muslim lainya lhoo. Kalau masih ada
perbedaan dintara saudara kita, yaa kita lihat terlebih dahulu apakah perbedaan
itu masih dalam koridor syari’at islam (sesuai Al-Qur’an dan Sunnah-Nya) atau
tidak.
Kalau dia sesuai Al-Qur’an dan
Sunnah-Nya, yaa berarti tidak ada alasan kita untuk membenci saudara kitaa.
Kecuali saudara kita telah melalukan kesesatan yang nyata, missal: menyembah
bunga mungkin, hhe. Kalau itu baru kita berkewajiban untuk mengingatkan dia.
Dan cara mengingatkannya pun hendaknya tanpa menyakiti perasaan dia, karena
bisa jadi yang kita makduskan untuk menasihati justru malah menjadi masalah
baru.
Lalu, lanjut lagi tentang toleransi.
Bukankan Rasulullah pun telah mencontohkan saling toleran bahkan ngak hanya sesama
muslim saja, tetapi sesama manusia. Yaitu kisah tentang Rasulullah yang berdiri
menunggu berlalunya rombongan yang membawa jenazah, padahal itu bukan orang
muslim lho.
Contoh lain mengenai toleransi juga
terjadi pada imam kita, yaitu imam malik, imam syafi’i, imam hanbali, dan imam
hanafi. Mereka memang terdapat perbedaan pendapat, namun masih sanggat-sanggat
menghormati satu sama lain, tidak saling membenci, atau menyalahkan, dll.
Lalu pernah juga mendapat cerita
mengena kisahi imam syafi’I dan imam malik, yang kedua-duanya itu adalah
seorang guru dan murid. Yaitu imam safi’I adalah murid dari imam malik, namun
keduanya berbeda pendapat dalam bebera hal. Nah, waktu itu ada kejadian yaitu
suatu hari imam malik sedang berkunjung ke tempat imam syafi’I,yang saat itu
akan melaksanakan sholat subuh berjamaah, karena imam syafi’I menggunakan
qunut, sedangkan imam malik tidak memakai qunut. Lalu imam syafi’I dengan toleran
nya beliau mengajak murid-muridnya untuk tidak qunut sendiri-sendiri atau pergi
ketika nanti sholat subuh tiba, karena yang akan menjadi imam sholat adalah imam
malik sang guru imam syafi’i. Kemudian ketika tiba saat sholat subuh, semua
sudah bersiap-siap termasuk imam malik, disaat sedang siap-siap, murid-murid
imam syafi’I yang menjadi jamaah sholat subuh pun tak kalah siap, mereka saling
mengingatkan untuk jangan sampai lupa nanti tidak qunut. Lalu sholat pun
dimulai, dan ketika sampai I’tidal ternyata imam malik dengan mencengangkanya
beliau memakai qunut. Wauu amazing bukann!!
Itulah kisah yang luar biasa lho, seorang
imam besar pun saling menghormati satu sama lain, lalu kita yang hanya manusia
biasa kadang dengan perbedaan yang kecil pun menimbulkan perpecahan.Hello hhe
Untuk itu, selama berpegang teguh
pada Al-Qur’an dan Sunnah-Nya mari kita saling mempererat persaudaraan dan
menghargai perbedaan antar saudara sesama muslim lainya. Hargailah perbedaan itu, karena dibalik kita
saling meributkan perbedaan itu, diluar sana banyak permasalahan yang harus
kita pecahkan BERSAMA.
Jkl/07/01/15
