Senin, 30 Desember 2013

Cerpen Sajaaa

*Inilah Kehidupann


Part 1

Suara angin berhembus di udara, detak jam dinding terdengar begitu keras bagaikan bunyi suara langkah kaki. Aku duduk di kursi belajarku yang sudah reot. Ku lihat sudah pukul 20.30 WIB memang belum terlalu malam, tapi mataku sudah tak kuat lagi untuk menyelesaikan tugas bahasa indonesia dari Bapak Bambang yang mengajar di SMA N 1 Gunungkidul, walaupun tugas itu dikumpulkan besok lusa, tapi aku mencoba untuk menyelesaikannya malam ini karena besok aku harus menggantikan mamak rewang di tempat Bu Slamet yang sedang mempunyai hajatan untuk pernikahan Mbak Dian putri sulungnya. Mbak Dian yang kuliah di UGM jurusan Biologi itu mendapatkan suami Mas Andre yang kuliah di UGM juga, jurusan Tekhnik Elektro.
“ndug ndug... tidurnya di kamar saja nanti masuk angin lho....”
Suara Mamak membangunkanku yang tak sengaja ketiduran,
            “iya mak, aku segera pergi ke kamar..!” dengan keadaan sangat ngantuk aku melangkah ke kamar  yang berada di dekat  ruang tamu, aku menyopot sandal ku kemudian bergegas tidur.
Sementara mamak sibuk di dapur untuk membuat  jajanan yang akan di jual di sekolah. Mamak memang biasa berjualan di sekolah-sekolah untuk menambah biaya kebutuhan hidup kami. Memang semenjak bapak meninggal karena tertimpa  pohon jati disaat sedang bekerja menglondong kayu, Mamak lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Aku dan adek ku Santi yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu biasa membantu mamak apapun yang bisa kami lakukan. Adek ku Santi biasanya sepulang sekolah berangkat ke kebun untuk mencari makanan kambing. Kami memang memiliki seekor kambing betina, kambing yang kami peroleh dari pemberian Pak Slamet, sebagai upah karena Mamak telah nggaduh kambing miliknya yang dititipkan kepada kami,
Sepulang sekolah biasanya aku membersihkan rumah, kemudian pergi ke rumah Bu Slamet untuk membersihkan rumahnya, memasak, dan menyetrika. Disana aku membantu perkerjaan rumah beliau dan pulang pukul 5 sore.  Selama 1 bulan aku di gaji 50 ribu, lumayan untuk menambah penghasilan mamak.
            Dengan tenang mamak mengaduk bubur kacang ijo yang akan dijual besok, bubur itu dijual dengan harga satu bungkus Rp. 500 rupiah, maklum karena mamak menjualnya di sekolahan SD. Setelah bubur itu matang, mamak segera  menggemasnya, bubur itu dituangkan ke dalam kantong plastik kecil kemudian ditambah sedikit  santan dan diikat. Akhirnya 25 bungkus bubur kacang ijo buatan mamak sudah siap untuk di jual.  Selain menjual bubur kacang ijo, mamak juga menjual jajanan kecil lainya seperti kripik telo, berbagai  gorengan, dan makanan ringan lainya.
Setelah selesai mengemas dagangan, meletakanya kedalam tenggok, dan merapikan semua peralatan-peralatan, mamak melangkahkan kakinya menuju kamar tidur yang terletak di sebelah kiri ruang sholat menyusul adek ku yang sedang tertidur pulas. Mamak merebahkan badanya dengan menahan rasa capek yang amat sakit di sekujur tubuhnya. Wanita itu sesekali menghela nafas panjang, dan menatap wajah Santi. Batin mamak seakan ingin menangis menginggat akan keseharian Santi. Dia yang seharusnya bisa bermain dan tertawa lepas dengan teman-temanya harus ikut membantu keluarga dan memikirkan tugas-tugas rumah tangga yang anak–anak lain tidak pernah melakukanya. Tanpa terasa air mata mamak meleleh, merasa tak tega dengan keadaan yang terjadi pada Santi. Mamak segera menghapus air mata itu.
***

Kringgggg.....kriiinngggg....kriiiiiiningggg....kringggg....
            Suara jam Beker di kamarku berbunyi dengan sangat nyaring. Ku ambil jam itu, yang terletak di meja belajar tak jauh dari tempat tidurku. Kemudian ku lihat dengan pandangan agak buram, ternyata pukul 03.02 WIB. Segera kusinggkirkan kemul, dan bergegas mengambil air wudhu, lalu sholat tahajjud. Sambil menunggu adzan subuh aku melanjutkan tilawah menyambung bacaan terakhir yang kemarin ku baca.
Selesai sholat subuh aku segera mandi, dan memakai seragam sekolah.  Lalu membantu Mamak menata dagangan yang akan dijual.  Sebelumnya Mamak sudah memasak nasi dan sayur. Karena setelah pulang berjualan Mamak akan langsung berangkat ke Ladang. Jadi tidak ada waktu untuk memasak. Sementara itu kulihat Santi sedang sibuk mengikat tali sepatunya.
“Santi Santi Santii!! Ayo berangkat ke sekolah!!” Suara teman-teman Santi terdengar sampai di dapur tempat aku dan Mamak menata dagangan. Mereka menghanpiri untuk berangkat ke sekolah bersama. Karena setiap hari mereka memang selalu berangkat ke sekolah bersama.
“Iya.., sebentarrrr teman-teman..,” Dengan tergesa-gesa ia segera berlari ke arah Mamak dan menghampiriku untuk berpamitan dan mencium tanggan lalu berlari keluar menghampiri teman-temanya.
Sementara aku juga segera menyelesaikan mengemasi dagangan, dan segera berangkat ke sekolah.
***

Sekarang pelajaran Biologi, Bu Siti menjelaskan mengenai pembagian urine. Dimulai dari urine primer,sekunder,
Sampai pada tempat terjadinya urine.
“Teng....,teng..,,tengggg...,!!” Suara bel sekolah terdengar pertanda waktu istirahat telah tiba. Teman-teman menuju ke arah kantin sekolah. Sementara aku mengemasi buku dan alat tulis yang tadi kupakai. Tiba-tiba Pak Budi guru BP sekolah datang menghampiriku membawa beberapa lembar kertas. Beliau menyerahkan kertas-kertas itu lalu aku disuruhnya untuk membaca kertas-kertas tersebut.
Setelah semua isi dalam kertas  itu kubaca, ternyata kertas-kertas itu adalah folmulir beasiswa untuk mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri. Pak Budi menyuruhku untuk mengisi folmulir itu. Aku agak ragu untuk mengisinya.
“Tapi Pak, mengapa saya yang harus diajukan untuk mengisi formulir beasiswa ini?”tanyaku kepada Pak Budi.
“Iya Sari, memang yang diajukan oleh sekolahan adalah kamu. Karena aku dan semua guru-guru disini setuju kalau kamu yang mendapatkan beasiswa ini, kamu adalah anak yang pintar dan berbudi pekerti baik juga selalu mendapat peringkat pertama di SMA kita ini, tetapi aku mendengar kabar dari teman-temanmu kalau keluargamu sudah tidak sanggup  membiayaimu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, padahal kemampuanmu itu sungguh sayang kalau tidak dikembangkan lagi. Jadi memang kamu yang paling pantas untuk mendapatkan beasiswa ini.”
            Akhirnya, dengan perasaan deg-degan, aku mengisi formulir itu. Aku berharap dapat diterima sehingga bisa melanjutkan kuliah dan kelak akan mendapatkan pekerjaan yang baik tentunya, sehingga bisa membantu mencari nafkah untuk mamak ku dan juga adikku Santi.
Pak Budi menjelaskan mengenai beasiswa itu panjang lebar, beliau mengatakan bahwa jika aku berhasil diterima, maka aku akan dibiayai dengan beasiswa penuh di perguruan tinggi negeri. Dan dalam 1 bulan akan mendapatkan biaya sebesar 10 juta rupiah. “Subhanallah, semoga aku bisa mendapatkan beasiswa itu ya Allah, jika Engkau mengizinkan.” Kataku dalam hati.
***

“Assalamu’alaikummm...,!! Mamak.., adek...??”
Aku membuka pintu kupanggil Mamak dan Santi, ternyata dirumah tak ada orang. Aku melangkah ke kamar, ku letakan tas, dan segera ganti pakaian. Setelah itu aku menuju dapur, kulihat disana tak ada orang. Lalu aku ingat ahwa ada pakaian kotor yang lumayan menumpuk sehingga ku putuskan untuk mencuci pakaian.
“Assalamu’alaikum..,mak...., mbakkk...!!” teriak Santi yang baru pulang Sekolah.
“Iya, aku di kamar mandi lagi nyuci bajuuu..!”
“Oww, mamak kemana mbak..??”
“Embak juga ga tau dek, tadi pas mbak pulang Mamak sudah gak ada..,!” jelasku pada Santi
Santi berjalan menuju dapur,  membuka tutup makanan, dan langsung makan. Kelihatanya ia sangat lapar. Karena mungkin di sekolahan tadi ia tidak jajan, Santi memang jarang jajan, uang sakunya ia tabung. Walaupun hanya diberi uang saku 500 rupiah Santi tidak pernah mengeluh. Ia selalu menyisakan uang sakunya untuk ditabung.
Setelah selesai makan, tiba-tiba Santi berlari menghampiriku. Sambil tersenyum riang ia menunjukan hasil ulangannya.
“Mbak lihat hasil ulanganku ini..., alhamdulillah aku dapat nilai 100 mbak..!!”
 “Alhamdulillah.., dipertahankan ya dek, supaya kamu bisa mendapat rangking satu lagi dan bisa mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke SMP..!” kataku pada Santi
“Iya mbak, aku akan belajar dengan giat supaya bisa rangking satu lagi..!”jawab Santi.
Aku bangga dengan Santi, memang dari kelas satu dia selalu mendapat rangking pertama di kelasnya.
***
           
Bersambunggg


Hanya ingin berkarya., ^^

Part 2


*Cerita Twitter

Siang tadi, setelah sudah bertahun-tahun tak kuhiraukan. Akhirnya Dia mengingatkanku kembali akan sebuah perjuangan yang selama ini telah terkubur dalam-dalam kira-kira hampir 3.570.000,00 meter(ngawur). Siang itu diantara banyak kerumunan orang yang sedang khusyuk melihat layar di depannya masing-masing. Ternyata- e ternyata aku memiliki keinginan untuk meneruskan perjuanganku yang selama ini terbengklalai karena-e karena (bacanya dg gaya bang Roma Irama). Akhirnya dengan berulang-ulang ku otak-atik apa yang ada di depan layarku. Dengan men-nge klak-klik apa aja yang kurang mudeng sebenarnya. Sampai juga aku menemukan permata hati ini(ciee), ku ikuti langkah-langkah nya dengan cermat dan sangat manut,mungkin  jika disuruh tengok kanan aku akan tengok kanan, jika tengok kiri aku akan tengok kiri, jika tengaok ke atas aku juga akan tengok ke atas, dan jika di suruh tengok ke belakang aku akan tengok kebeakang (emang bisaaaa).
Dan, tiba lah waktunya yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah semua langkah-langkahnya terpenuhi. Dengan satu klik-an yang sangat yakin, dan tegas dan mata melotot ke depan. Secepat kilat hatiku..
Hatiku..
Hatuku..
Kagett bukan main, karena aku belum berhasil ngebuat twitter. Hadahhh
Tak tau lah kita orang ni kapan akan bisa segera buat twitter. Tapi walaupun gagal ke sekian kalinya. Tetap aku tak pantang menyerah, aku akan berusaha keras mewujudkan harapan besar ku.SEMANGGATTT (Aigooo.., masalah twitter aja kayak presiden ngurusin utang negara yaa)



Gak jelas, :D 14-01-13

Rabu, 11 Desember 2013

Puisi

Aneh...
Saat mulut ingin berkata...
Tag ad keberanian unt mengungkapkanya...
Saat lisan ingin berbagi cerita...
Tag  tau pd siapa akan bercerita...
Aneh...
Rasa enggan yang selalu ada...
Membuat  suasana hati gundah gulana...
Ingin ku berteriak sekencang kencang nya....
Namun mulut tak kuasa melakukanya...
Aneh...
Saat orang tertawa lepas..
Muka tertunduk dan tak ad kata kata...
Rasa terasingkan...
Berkecambuk dalam hati...
Astaghfirullah...


Cerita Simbah "Setia"

Bismillah Jadi saya itu mempunyai simbah kakung dan simbah putri yang tinggal bersama saya di rumah. Dalam ingatan saya dulu ketika saya ...