*Inilah Kehidupann
Part 1
Suara
angin berhembus di udara, detak jam dinding terdengar begitu keras bagaikan bunyi
suara langkah kaki. Aku duduk di kursi belajarku yang sudah reot. Ku lihat
sudah pukul 20.30 WIB memang belum terlalu malam, tapi mataku sudah tak kuat
lagi untuk menyelesaikan tugas bahasa indonesia dari Bapak Bambang yang
mengajar di SMA N 1 Gunungkidul, walaupun tugas itu dikumpulkan besok lusa,
tapi aku mencoba untuk menyelesaikannya malam ini karena besok aku harus menggantikan
mamak rewang di tempat Bu Slamet yang sedang mempunyai hajatan untuk pernikahan
Mbak Dian putri sulungnya. Mbak Dian yang kuliah di UGM jurusan Biologi itu
mendapatkan suami Mas Andre yang kuliah di UGM juga, jurusan Tekhnik Elektro.
“ndug
ndug... tidurnya di kamar saja nanti masuk angin lho....”
Suara Mamak
membangunkanku yang tak sengaja ketiduran,
“iya mak, aku segera pergi ke kamar..!” dengan keadaan
sangat ngantuk aku melangkah ke kamar
yang berada di dekat ruang tamu,
aku menyopot sandal ku kemudian bergegas tidur.
Sementara
mamak sibuk di dapur untuk membuat
jajanan yang akan di jual di sekolah. Mamak memang biasa berjualan di
sekolah-sekolah untuk menambah biaya kebutuhan hidup kami. Memang semenjak
bapak meninggal karena tertimpa pohon
jati disaat sedang bekerja menglondong
kayu, Mamak lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Aku dan adek ku
Santi yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu biasa membantu mamak apapun
yang bisa kami lakukan. Adek ku Santi biasanya sepulang sekolah berangkat ke
kebun untuk mencari makanan kambing. Kami memang memiliki seekor kambing betina,
kambing yang kami peroleh dari pemberian Pak Slamet, sebagai upah karena Mamak
telah nggaduh kambing miliknya yang dititipkan kepada kami,
Sepulang
sekolah biasanya aku membersihkan rumah, kemudian pergi ke rumah Bu Slamet
untuk membersihkan rumahnya, memasak, dan menyetrika. Disana aku membantu
perkerjaan rumah beliau dan pulang pukul 5 sore. Selama 1 bulan aku di gaji 50 ribu, lumayan
untuk menambah penghasilan mamak.
Dengan tenang mamak mengaduk bubur kacang ijo yang akan
dijual besok, bubur itu dijual dengan harga satu bungkus Rp. 500 rupiah, maklum
karena mamak menjualnya di sekolahan SD. Setelah bubur itu matang, mamak
segera menggemasnya, bubur itu
dituangkan ke dalam kantong plastik kecil kemudian ditambah sedikit santan dan diikat. Akhirnya 25 bungkus bubur
kacang ijo buatan mamak sudah siap untuk di jual. Selain menjual bubur kacang ijo, mamak juga
menjual jajanan kecil lainya seperti kripik telo,
berbagai gorengan, dan makanan ringan lainya.
Setelah
selesai mengemas dagangan, meletakanya kedalam tenggok, dan merapikan semua peralatan-peralatan, mamak melangkahkan
kakinya menuju kamar tidur yang terletak di sebelah kiri ruang sholat menyusul
adek ku yang sedang tertidur pulas. Mamak merebahkan badanya dengan menahan
rasa capek yang amat sakit di sekujur tubuhnya. Wanita itu sesekali menghela
nafas panjang, dan menatap wajah Santi. Batin mamak seakan ingin menangis
menginggat akan keseharian Santi. Dia yang seharusnya bisa bermain dan tertawa
lepas dengan teman-temanya harus ikut membantu keluarga dan memikirkan
tugas-tugas rumah tangga yang anak–anak lain tidak pernah melakukanya. Tanpa
terasa air mata mamak meleleh, merasa tak tega dengan keadaan yang terjadi pada
Santi. Mamak segera menghapus air mata itu.
***
Kringgggg.....kriiinngggg....kriiiiiiningggg....kringggg....
Suara jam Beker di kamarku berbunyi dengan sangat nyaring.
Ku ambil jam itu, yang terletak di meja belajar tak jauh dari tempat tidurku.
Kemudian ku lihat dengan pandangan agak buram,
ternyata pukul 03.02 WIB. Segera kusinggkirkan kemul, dan bergegas mengambil air wudhu, lalu sholat tahajjud. Sambil
menunggu adzan subuh aku melanjutkan tilawah menyambung bacaan terakhir yang kemarin
ku baca.
Selesai
sholat subuh aku segera mandi, dan memakai seragam sekolah. Lalu membantu Mamak menata dagangan yang akan
dijual. Sebelumnya Mamak sudah memasak
nasi dan sayur. Karena setelah pulang berjualan Mamak akan langsung berangkat
ke Ladang. Jadi tidak ada waktu untuk memasak. Sementara itu kulihat Santi
sedang sibuk mengikat tali sepatunya.
“Santi Santi Santii!! Ayo
berangkat ke sekolah!!” Suara teman-teman Santi terdengar sampai di dapur
tempat aku dan Mamak menata dagangan. Mereka menghanpiri untuk berangkat ke
sekolah bersama. Karena setiap hari mereka memang selalu berangkat ke sekolah
bersama.
“Iya.., sebentarrrr
teman-teman..,” Dengan tergesa-gesa ia segera berlari ke arah Mamak dan
menghampiriku untuk berpamitan dan mencium tanggan lalu berlari keluar
menghampiri teman-temanya.
Sementara
aku juga segera menyelesaikan mengemasi dagangan, dan segera berangkat ke
sekolah.
***
Sekarang
pelajaran Biologi, Bu Siti menjelaskan mengenai pembagian urine. Dimulai dari
urine primer,sekunder,
Sampai pada tempat
terjadinya urine.
“Teng....,teng..,,tengggg...,!!”
Suara bel sekolah terdengar pertanda waktu istirahat telah tiba. Teman-teman
menuju ke arah kantin sekolah. Sementara aku mengemasi buku dan alat tulis yang
tadi kupakai. Tiba-tiba Pak Budi guru BP sekolah datang menghampiriku membawa
beberapa lembar kertas. Beliau menyerahkan kertas-kertas itu lalu aku disuruhnya
untuk membaca kertas-kertas tersebut.
Setelah
semua isi dalam kertas itu kubaca, ternyata
kertas-kertas itu adalah folmulir beasiswa untuk mendaftar ke perguruan tinggi
di luar negeri. Pak Budi menyuruhku untuk mengisi folmulir itu. Aku agak ragu
untuk mengisinya.
“Tapi Pak, mengapa saya
yang harus diajukan untuk mengisi formulir beasiswa ini?”tanyaku kepada Pak
Budi.
“Iya Sari, memang yang
diajukan oleh sekolahan adalah kamu. Karena aku dan semua guru-guru disini
setuju kalau kamu yang mendapatkan beasiswa ini, kamu adalah anak yang pintar
dan berbudi pekerti baik juga selalu mendapat peringkat pertama di SMA kita
ini, tetapi aku mendengar kabar dari teman-temanmu kalau keluargamu sudah tidak
sanggup membiayaimu untuk melanjutkan ke
perguruan tinggi, padahal kemampuanmu itu sungguh sayang kalau tidak
dikembangkan lagi. Jadi memang kamu yang paling pantas untuk mendapatkan
beasiswa ini.”
Akhirnya, dengan perasaan deg-degan, aku mengisi formulir
itu. Aku berharap dapat diterima sehingga bisa melanjutkan kuliah dan kelak
akan mendapatkan pekerjaan yang baik tentunya, sehingga bisa membantu mencari
nafkah untuk mamak ku dan juga adikku Santi.
Pak
Budi menjelaskan mengenai beasiswa itu panjang lebar, beliau mengatakan bahwa
jika aku berhasil diterima, maka aku akan dibiayai dengan beasiswa penuh di
perguruan tinggi negeri. Dan dalam 1 bulan akan mendapatkan biaya sebesar 10
juta rupiah. “Subhanallah, semoga aku bisa mendapatkan beasiswa itu ya Allah,
jika Engkau mengizinkan.” Kataku dalam hati.
***
“Assalamu’alaikummm...,!!
Mamak.., adek...??”
Aku
membuka pintu kupanggil Mamak dan Santi, ternyata dirumah tak ada orang. Aku
melangkah ke kamar, ku letakan tas, dan segera ganti pakaian. Setelah itu aku
menuju dapur, kulihat disana tak ada orang. Lalu aku ingat ahwa ada pakaian
kotor yang lumayan menumpuk sehingga ku putuskan untuk mencuci pakaian.
“Assalamu’alaikum..,mak....,
mbakkk...!!” teriak Santi yang baru pulang Sekolah.
“Iya, aku di kamar mandi
lagi nyuci bajuuu..!”
“Oww, mamak kemana
mbak..??”
“Embak juga ga tau dek,
tadi pas mbak pulang Mamak sudah gak ada..,!” jelasku pada Santi
Santi
berjalan menuju dapur, membuka tutup
makanan, dan langsung makan. Kelihatanya ia sangat lapar. Karena mungkin di
sekolahan tadi ia tidak jajan, Santi memang jarang jajan, uang sakunya ia
tabung. Walaupun hanya diberi uang saku 500 rupiah Santi tidak pernah mengeluh.
Ia selalu menyisakan uang sakunya untuk ditabung.
Setelah
selesai makan, tiba-tiba Santi berlari menghampiriku. Sambil tersenyum riang ia
menunjukan hasil ulangannya.
“Mbak lihat hasil
ulanganku ini..., alhamdulillah aku dapat nilai 100 mbak..!!”
“Alhamdulillah.., dipertahankan ya dek, supaya
kamu bisa mendapat rangking satu lagi dan bisa mendapat beasiswa untuk
melanjutkan ke SMP..!” kataku pada Santi
“Iya mbak, aku akan
belajar dengan giat supaya bisa rangking satu lagi..!”jawab Santi.
Aku
bangga dengan Santi, memang dari kelas satu dia selalu mendapat rangking
pertama di kelasnya.
***
Bersambunggg