Jumat, 18 April 2014

Kisah Rasulullah

*Wafatnya Nabi Muhammad SAW


Tak sengaja menemukan ini, jadinya ingin kutulis. Selalu haru saat membaca kisah ini, subhanallah. Mungkin sudah sering sekali kisah ini kita dengar, tapi tetap saja saat membaca kisah ini masih terasa sanggat terharuu.,

Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata berkutbah, “Wahai umat ku kita semua dalam kekuasaan Allah dan kcinta kasih-Nya, maka taat dan bertaqwalah kepada-Nya. Kuwariska dua perkara kepada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku.”
            Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang menatap satu persatu sahabatnya. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukan kepala.
Isyarat telah datang, saatnya telah tiba. “Rasulullah akan meningalkan kita semua “Keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampir selesai tunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu makin kuat, ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup . Didalamnya Rasul berbaring lemah dengan kening berkeringatmembasahi pelapah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba diluar pintu terdengar salam, “Bolehkah ssaya masuk?” tanyanya
Fatimah tak mengijinkan masuk. “Maafkan ayahku sedang demam.”
Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya,
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak taulah ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya” tutur fatimah
Rasul menatap putrinya dengan pandangan yang mengetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah putrinya hendak dikenang.
“Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut.” Kata Rasulullah
Fatimahpun menahan ledakan tangisnya. Ketika malaikat maut datang mendekat, Rasul menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah jibril yang sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah” Tanya Rasulullah dengan suara yang teramat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti Ruhmu. Semua surga terbuka terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Kata jibril
Ternyata itu tidak membuat Rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kaar ini?” tanya jibril
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir ya rasul Allah, aku pernah mendengar dari Allah berfirman kepadaku, Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata Jibril
Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh rasulullah ditarik. Nampak sekujur tubuh rasul bersimbah peluh, urat0urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini” Rasulullah mengadu lirih.
Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Jibril memalingkan muka.
“Jijikah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmuJibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapa yang sanggup melihatk kekasih Allah di renggut ajal. :kata Jibril.
Kemudian terdengar Rasul memekik karena sakit yang tak tertahankan. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpahkan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasul mulsi dingin, kaki dan tanganya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan teinganya.” Uushikum bis shalati, wa maa malakat aymanukum. Perilaharah sholat dan perilaharah orang-orang lemah diantara kamu.”
Di luar pintu tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya.
Dan ali kembali mendekatkantelinga di bibir rasul yang mulai kebiruan, Ummatii..., ummatiii.., ummatii,”
Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran mulia itu.
Allahuma sholi’ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. :’( :’(


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Simbah "Setia"

Bismillah Jadi saya itu mempunyai simbah kakung dan simbah putri yang tinggal bersama saya di rumah. Dalam ingatan saya dulu ketika saya ...